CP – Tak Selalu Mengganggu Kecerdasan

Dr Amendi Nasution SpRM
(Ahli Rehabilitasi Medik RSUPN Cipto Mangunkusumo)

Cerebral Palsy (CP) di Indonesia ditemukan sejak kapan?
Sebenarnya, di Indonesia ini CP sudah lama. Coba, YPAC saja sudah berapa lama, ya, seumuran adanya YPAC. Beda kalau dengan penyakit Autisme, itu memang baru. CP sudah ada dari dulu. Cuma orang tua kadang-kadang mengatasi anak CP dengan cara disimpan saja di rumah, mereka tak mengerti penyakit seperti apa yang diderita anaknya. Untuk boom-nya, CP ini sekitar sepuluh tahunan ini.

Sampai saat ini, penderitanya ada berapa?
Belum ada data yang akurat untuk itu. Saya kira, sekitar dua jutaan penderita. Dari angka kelahiran hidup di Indonesia saat ini adalah tiga sampai lima menit satu bayi lahir. Dari seribu kelahiran hidup, sekitar 2 sampai 2,5 persennya berisiko CP.

Bagaimana dengan otak CP, apakah ada luka atau seperti apa?
CP itu otaknya bukan karena luka. Secara implisit bukan luka, tapi ada bagian otaknya yang tak dapat oksigen. sehingga bagian itu menjadi rusak. Misalkan, tadinya warna otaknya putih, karena rusak bisa jadi abu-abu. Kalau otaknya sudah rusak, ya tetap rusak. Contohnya orang yang pernah kena stroke, masih tetap ada bekasnya. Meski begitu, kita upayakan masih ada perbaikan sebanyak 90 persen.

Intelegensianya bagaimana?
CP tak selalu menganggu intelegensia penderita. Ada pasien justru yang bisa sekolah dan berprestasi. Contohnya saja, ada pasien yang sekarang sudah kelas 6, bahkan kuliah di UI. Pasien dari Bandung misalkan, kelas 5 juara kelas. Sebenarnya, soal intelegensia pada CP, ada yang memang kena, ada yang tidak, tergantung tingkat keparahan CP-nya.

Karakteristik khas CP seperti apa?
Terlambat perkembangan. gangguannya di situ. Misalkan, anak 1,5 tahun belum bisa jalan, itu mesti diduga. Lebih awal lagi, lihat lehernya pada saat bayi usia tiga bulan. Biasanya, di usia itu, leher bayi sudah kokoh, tapi, penderita CP biasanya selalu lemas. Di samping itu, ada pemeriksaan lain kalau dokter. Intinya, CP adalah gangguan perkembangan, bukan gangguan pertumbuhan. Hanya pada beberapa penderita, ada gangguan motorik yang terjadi. Gejalanya tak disertai panas pada awal-awal CP. Namun, kalau CP-nya karena infeksi suatu penyakit, gejala seperti itu memang ada.

Sebabnya CP itu dari lahir atau setelah lahir?
Ada beberapa jenis. Pada saat prenatal, pada saat partus, dan postnatal. Pada kasus prenatal, unsur gizi dan gangguan pada janin bisa jadi sebabnya. Sedangkan pada partus, dari kasus vakum bisa terjadi. Kasus CP pada postnatal bisa disebabkan karena infeksi, misalkan karena meningitis. Bayi pada saat lahir sangat rentan dan mudah kena virus. Bila sudah kena, bisa langsung menyerang otak. Bila otak rusak, bisa kena CP. Orang tua juga bisa kena CP, itu tergantung daya rentannya. Kalau sekarang, sudah banyak imunisasi, jadi jarang yang kena.

Mengenai pengobatannya bagaimana?
Sebenarnya, CP itu diderita seumur hidup. Kita hanya melakukan terapi untuk memaksimalkan fungsinya. Misalkan untuk membantu perkembangan kakinya. Yang tadinya tak bisa jalan, lalu dengan terapi dan latihan, ototnya mengendur dan bisa jalan. Salah satu terapinya adalah dengan Botox. Terapi ini sudah ada sejak tahun 1997. Di Indonesia mulai ada per tahun 2003 karena obatnya sulit dicari.

Terapinya seperti apa?
Untuk Botox, terapinya adalah dengan memberikan suntikan pada pasien. Suntikannya itu tergantung kebutuhan. Sebanyak satu kali suntikan untuk jangka waktu enam bulan. Disuntik per otot yang mengalami kekejangan atau gangguan motorik, bukan seluruh badan. Hal ini sama saja seperti pada terapi kulit. Mereka juga menggunakan Botox, termasuk mereka yang menderita stroke. Satu vial suntikan isinya ada 100 unit. Paling sedikit 1 vial untuk satu pasien. Biasanya, suntikan itu sebanyak 2 miligram per satu kilogram berat badan. Fungsi Botox itu adalah untuk melemaskan ototnya. Otot yang kaku, kakunya jadi hilang.

Berapa lama otot yang kaku itu bisa dikoreksi sejak terapi?
Setelah disuntik Botox, bagian itu harus dicasting dulu selama 10 hari. Itu dilakukan supaya ototnya lemas, sehingga terjadi mulur. Sepuluh hari kemudian dibuka dan Botox-nya sudah bereaksi. Pada saat ototnya lemas itulah, anak bisa dilatih. Misalkan pada otot kaki, anak itu bisa dilatih untuk berjalan. Latihan itu sudah wajib dilakukan bagi penderita CP dalam terapi ini.

Usia berapa tahun yang paling efektif untuk terapi?
Untuk anak, biasanya enam tahun, karena ototnya masih bisa mulur. Anak masih kecil kalau umur sekian. Meski begitu, Botox juga digunakan untuk pasien stroke untuk dewasa. Namun, efektivitasnya tak sebagus anak. Jadi untuk orangtua, harus beberapa kali terapi bila dibanding anak-anak. wedsumber:republika 

This entry was posted in Cerebral Palsy (CP). Bookmark the permalink.

3 Responses to CP – Tak Selalu Mengganggu Kecerdasan

  1. Ws says:

    Alo Mah.. email mamah sekarang apa ya?

    aku sudah ke dokter Luh..
    dan disarankan untuk botox juga

    Apakah Najwa juga diberi botox?

  2. mama farhan says:

    untuk najwa yang sabar kita memang dipilih untuk sabar tapi saya kwahatir anak saya yang cp namun bb badan makin bertambah dan mulai susah mengangkat kadang dia memgangkat dirinya sendiri lam gmana yah ?minta pentunjuk dong ,.

  3. hadi says:

    Mohon yg punya info suntik botox dimana kami bisa konsul masalah ini…..trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by WP Hashcash