Nggak Mo Mo Lagi ke Puskesmas

Sejak semalam,Najwa muntah2 dan rewel, nafsu makannya menurun dratis. Suhu tubuhnya naik turun.Papahnya juga sudah beberapa hari ini mengeluh nggak enak badan. Paginya saya izin datang telat utk mengantar najwa dan papahnya ke dokter .Biasanya saya membawa najwa ke dokter Mulyono di RSPP,namun dengan pertimbangan untuk menghemat waktu, kami bertiga ke puskesmas yang deket dengan rumah.

Setelah menunggu antrian yang nggak seberapa banyaknya, akhirnya giliran kami tiba kami masuk ke ruangan yang lumayan bersih dan cukup nyaman, tiba2 dengan suara keras bu dokter memerintah kami.

“Bapak duduk disini,anaknya berdiri ditimbang dulu”

Sedikit kaget juga kami mendapat perintah yang tidak ada ramah2nya. Aku bingung juga, bagaimana mungkin najwa berdiri di timbangan, najwa msh belum bisa berdiri sendiri, akhirnya najwa saya dudukin di timbangan khusus bayi, dokternya bertanya dengan suara keras dan terheran2.

“Anak 2 tahun belum bisa berdiri dan berjalan?”

Aku kuatkan hati dan berusaha sabar. Papahnya menyahut “Najwa kena CP, dok” tanpa mendengar penjelasan suamiku dokternya tiba2 menyahut lagi

“Semestinya kalian sudah punya anak satu lagi…kenapa harus lama2…”

Saya terdiam, papahnya yang menjawabnya.

“Ini juga sedang berusaha dok, dari awal juga kami nggak KB”

“Coba periksain ke bidan ” , begitu dokternya menjawab ….

Terusik dengan pertanyaan yang tidak nyambung akan maksud tujuan kami ke puskesmas, akhirnya saya bertanya juga

“Kenapa harus tambah anak dok, apakah ada dampak psikologisnya buat najwa?”

Dengan ketus dokter ini menjawab.

“Bukan buat najwa, tapi buat kalian…..bukankah kalian juga menginginkan anak yang sehat seperti anak2 yang lainnya? Kalau najwa ya..akan tetap seperti ini…..kalaupun nanti sekolah ya akan di sekolahin di SLB”

Kata2 yang tidak berperasaan itu meluncur begitu saja dari seorang dokter. Duh gusti berkaca2 aku mendengar, sambil memangku najwa, aku belai2 rambutnya…..kalaupun saya dan papahnya berniat untuk memberikan najwa adik bukan karena kami menginginkan anak seperti yang lain2nya…bukan karena najwa berbeda, bukan itu..kami ingin memberikan adik buat najwa, karena kami ingin memberikan najwa seorang teman,seseorang buat dia berbagi, dan najwa akan lebih tepacu kalo dia punya teman.

Beginikah pandangan seorang dokter yang notabene seorg yang berpendidikan tapi mempunyai pandangan yg sangat tidak manusiawi atau memang seperti inikah pelayanan di puskesmas? hanya karena murah, dokter bisa seenaknya memberikan pernyataan tanpa di dasari oleh fakta2 medis.

Enggan utk berdebat dengannya, saya memberikan pernyataan dengan tekanan agar dokter tsb bisa jelas2 mendengarnya.

Saat najwa usia 10 bulan saya sudah membawanya ke dokter dwi putro specialis syaraf di RSPI rumah sakit Pondok Indah, Najwa sudah di observasi, menjalani CT Scan,EEG,test mata dan berahasilnya Mild CP.

Dokternya malah tanya “apa itu mild CP”

ya ampun dok….ternyata nggak tahu ya..CP itu apa…..dari td ngomong panjang lebar ternyata nggak tahu apa itu CP.
capek dehhhhhhh……..ternyata memang seperti ini standart pelayanan puskesmas,dengan pengetahuan yg terbatas
bu dokter dgn seenaknya memvonis klo najwa akan masuk SLB.

Duh bu dokter, sekarang sudah ada sekolah2 umum dan swasta yg ada kurikulim akusisinya, mungkin tuh dokter juga nggak tahu apa itu akusisi.

Ternyata uji kesabaran masih belum selesai, dokter itu berkata

“Ini baru anak satu aja, sdh begini…”

Ya ampun dokter……apakah tidak ada komentar yang bersahabat dari bibirmu? dengan jengkel saya menjelaskan

“Ini bukan kesalahan kita dok, saat waktu melahirkan kita sudah ke rumah sakit tapi di suruh pulang oleh dokternya”

Nggak mau kalah dokternya nyahutin lagi “makanya cari dokter yg bener….” duh, klo bukan krn najwa yg sakit,mungkin
saya sdh tinggalin tuh dokter.

Tiba-tiba dokter itu bertanya lagi

“Bapaknya kerja dimana,kok pagi2 bisa kesini?”

Ya ampun bu dokter, kan bapaknya juga sakit, makanya pagi2 dah kesini buat periksa…
sebel saya bilang ke dokternya.

“Papahnya ini dosen dok,saya programmer di perusahaan IT. Kami bertiga kesini, karena najwa dan papahnya sakit.”

Dokter ini bertanya lagi.

“Kalo dosen, banyak ngajarin cewek2 donk…..”

ya ampun ini dokter pertanyaannya nggak penting banget sih……

“Dok,suami saya ini ngajar di fakultas teknik, jadi muridnya semua cowok”

Puassssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss……..dalem ati teriak begitu , akhirnya ( setelah cukup lama mendengar pertanyaan2 dokter yg nggak perlu saya tuliskan disini karena memang nggak penting) najwa diperiksa juga, najwa disuruh buka mulut, dengan tenang najwa menurutinya,najwa membuka mulutnya.
dokternya kaget,oooo ternyata anaknya bisa ngerti dan komunikatif ya….

Anaknya bisa ngomong ya…?”

“Bisa dok, klo komunikasi sama wicaranya bagus” begitu papahnya menyahut

sambil berusaha tersenyum dan dgn keramahan yg tampak dibuat2 dokternya bilang

“kalau dilihat dari anaknya yang aktif dan komukatif seperti nya nggak
keliatan kalo anaknya sakit ya…

maksudnya sakit krn keterlambatan motoriknya, jadi kayaknya najwa bisa sekolah di sekolah biasa, ini hanya
motoriknya aja yg terlambat”

gubrakssssssssss……

“Nanti najwa bisa mengejar keterlambatannya ya,,,,,” begitu kata bu dokter
“Amin………”

Semoga itu doa tulus dari seorang dokter.

This entry was posted in Najwa. Bookmark the permalink.

0 Responses to Nggak Mo Mo Lagi ke Puskesmas

  1. hera says:

    lagi iseng2 browsing, nemu blognya mbak… jadi ikutan gemes (dan ngenes) baca critanya mbak, kok dokter bisa kayak gitu ya? ckckck… trus sampe istilah kedokteran aja gak tau *geleng2 kepala* dokter beneran apa bukan yaaa :-p
    anak saya, Pasha (4thn) juga ada speech delay, dan sensory defensiveness.. kalo ke dokter bawaannya ngamuk melulu, apalagi kl ketemu dokter yang kayak mbak critain, bisa2 bundanya ikutan ngamuk juga, hehe
    tapi mbak sabar banget, kl aku udah langsung tak tinggal kaliiii
    salam kenal ya mbak, salam juga buat najwa 😉

  2. Himawan says:

    Wah…ternyata Indonesia ini memang lahan untuk dokter “dungu”. Sabar ya Tar, Sabar ya Najwa…..gak habis pikir, di jaman yang selalu mengedepankan etika, ternyata masih ada praktisi yang mengakunya “terdidik” melakukan hal yang “tidak terdidik”.

    Parahnya lagi, untuk bidang yang dia geluti aja masih keteteran dalam hal istilah. Gimana mau jadi dokter sih!!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by WP Hashcash