Cerita dari Sahabat part IV – Sasya

Pagi yang mendung mengawali hari kerja setelah 3 hari libur Idul Adha.
Seperti biasa rutinitas pagi hari di kantor adalah membaca email2 yang masuk dan membalasnya bila memang perlu untuk di balas.Salah satu email yang masuk dari mamah Sasya di Palembang, beliau ingin sharing mengenai anaknya Sasya yang berusia satu tahun.

Membaca emailnya membuat aku kembali disadarkan bahwa banyak teman2 yang mengalami hal yang sama bahkan keadaannya jauh lebih berat.
Buat mamah Sasya tetap tabah dan semangat ya
Comment mamah Sasya yang masuk di blog ini saya jadikan satu tulisan tersendiri, semoga dapat bermanfaat.

Cerita mamah Sasya:
Salam kenal mbak, saya ingin berbagi cerita. Saya berdomisili di Palembang. Sasya anak saya skrg berumur 1 tahun. lahirnya prematur usia kehamilan 30 minggu. Sebenarnya dia lahir kembar, namun hanya berselang 32 jam Tuhan memanggil kembarannya. Sasya lahir dengan berat 1,5kg. Perjuangan yg cukup berat utk kami krn sasya harus dirawat slm lbh kurang 1,5 bln di NICU. Pada saat lhir dokter mendiagnosa sasya terkena perdarahan otak.

Pada saat pulang, sasya berumur hampir dua bln dengan BB:1,750kg. Yang ada dlm pikiran kami saat itu adalah bagaimana caranya untuk menaikkan berat badn sasya dengan cepat spy mjd normal. Kami belum memikirkan ttg perkembangan motoriknya saat itu.

Pada saat berumur 8 bulan sasya tiba2 kejang (seperti kaget yg berulang), kami lsg membawanya ke dsa bag syaraf, setelah memeriksa dokter mengatakan sasya mengalami keterlambatan. Seharusnya umur 8 bln dia sdh bisa tengkurap tp ternyata dia belum bisa apa2. Akhirnya dokter memberikan obat untuk menghilangkan kejang dan menyarankan CT-Scan.

Setelah 1 minggu minum obat tersebut tidak menunjukkan perubahan, sasya semakin sering kejang. Kami pun panik. Akhirnya org tua menyarankan untuk membawa ke singapura.

Di singapore sasya di beri vigabatrin. alhamdulilah kejangnya hilang. Dokter menyarankan melakukan MRI, dan EEG. Hasilnya sangat membuat kami syok, pd hasil MRI dokter mengatakan ada cedera di beberapa syaraf otak yg tdk dpt disembuhkan lg. Harapannya tgl mengaktifkan syaraf2 lain yang masih bagus mll stimulasi dan gizi.

akhirnya dokter merujuk sasya ke seorang fisiotherapi di daerah tanglin road. Disana kami diberi semacam program Home exercise yg hrs dilakukan selama kami pulang di Palembang. Setiap 2 bln kami hrs kontrol kesana.

Saya sdh pernah coba untuk mencari tmpt fisiotherapi di Palembang ttp tdk ada yang bagus. Saat ini sasya sdh berumur 1 tahun, tp belum memiliki perkembangn yg berarti. Kepalanya bs tegak ttp belum terlalu kuat. Dia belum bs tengkurap, apalagi duduk atau berjalan ttp sdh bs memiringkan badan. Matanya pun belum terlalu fokus. terkadang masih kosong. Sedih memang, tp saya berupaya utk sll kuat menghadapi cobaan ini.

Duh… maaf nih mbak curhatnya kelewat panjang ya…..
Terima kasih banyak ya…. saya mohon kalo ada saran….

This entry was posted in Najwa. Bookmark the permalink.

0 Responses to Cerita dari Sahabat part IV – Sasya

  1. nonadita says:

    Dengan berbagi kisah, ternyata jadi banyak cerita yang bisa didapat ya.

  2. shierlyn says:

    salam kenal…mama najwa
    saya ibu dari farrel 6 bln, terkena cp juga diserati mikrosefali dan hydrosefalus ringan…saya ingin berbagi cerita dengan mama najwa…bisakah saya tahu alamat email dan ym mama najwa? saya juga minta tolong contact personnya pak joko…saya ingin tahu alamat pengobatan totok syaraf yang disubang. trims

  3. Joddie says:

    Bu, saya tulis kisah menarik tentang CP.. bisa dilihat di blog saya :

    http://joddie-for-harmony.blogspot.com/2009/01/nilai-sepuluh-bagi-tina.html

    Semoga bisa menguatkan..

  4. kun says:

    Mama Najwa,
    salam kenal dan mohon informasinya kalau tahu dimana alamat Mama Sasya karena
    saya juga tinggal di Palembang
    Salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by WP Hashcash